- Iklan politik bukan referensi utama
- Iklan politik hanya selingan yang menghibur
- Iklan politik dijadikan rakyat sebagai bahan utama menilai Partai Politik dan kandidat peserta Pemilu
Saturday, December 3, 2011
Iklan Politik Tidak Selamanya Sukses
Iklan tidak hanya digunakan untuk mempromosikan suatu produk atau jasa saja, tetapi juga dapat digunakan untuk mempromosikan salah satu tokoh / partai politik yang ikut serta sebagai peserta dalam suatu kegiatan pemilihan umum (pemilu).
Dalam suatu pemilihan umum (pemilu), mereka (peserta pemilu) akan melakukan bentuk-bentuk komunikasi yang diharapkan bisa mempengaruhi khalayak masyarakat luas agar mau memilih dirinya pada saat pemilihan umum berlangsung.
Salah satu bentuk komunikasi yang kerap digunakan oleh para peserta pemilihan umum dalam kegiatan kampanye adalah iklan politik.
Mengapa menggunakan iklan politik ?
Alasan para peserta pemilu tersebut menggunakan iklan politik sebagai bagian dari kampanye nya ialah karena iklan politik merupakan salah satu strategi pemasaran yang cukup efektif untuk memperkenalkan latar belakang peserta dan juga untuk mempromosikan program, platform, isu-isu politik, dan keunggulan dari masing-masing peserta pemilu, baik itu secara individu / kandidat ataupun golongan / partai politik. Tidak hanya itu saja, dengan iklan politik peserta pemilu berharap akan mendapatkan pandangan, persepsi, dan citra yang positif dari khalayak yang akan memilih pada saat pengambilan suara dalam pemilihan umum berlangsung.
Itu yang kandidat / partai politik peserta pemilihan umum (pemilu) harapkan dari iklan politik yang menjadi bagian dari kegiatan kampanye nya. Namun bagaimana kenyataan yang ada, apakah benar iklan politik akan selalu dapat membuat kandidat atau partai politik peserta Pemilu dipilih masyarakat dalam pemilihan umum (pemilu) ?
Jawabannya adalah tidak selamanya. Kenapa? karena meskipun sudah melihat iklan politik dari masih banyak saja masyarakat yang golput (golongan putih) atau tidak menggunakan suaranya untuk memilih dalam Pemilu.
Banyak kasus yang menunjukkan bahwa iklan politik tidak selamanya dapat mempengaruhi masyarakat untuk memilih dalam Pemilu, salah satunya adalah kasus pemilu tahun 2009 lalu.
Biaya belanja iklan untuk Pemilu 2009 yang meningkat sekitar 335% atau sekitar Rp 2.154 triliun (sumber: The Nielsen) ternyata tidak selamanya berhasil membuat masyarakat tertarik untuk memilih peserta Pemilu dalam Pemilu 2009 lalu, kenapa ? karena menurut Suara Pembaruan tanggal 1 April 2009, didapatkan jumlah golongan putih (golput) atau mereka yang tidak menggunakan suaranya meningkat sebesar 27,77% dari Pemilu tahun 2004.
Kasus Pemilu 2009 adalah salah satu contoh dari tidak selamanya iklan politik sukses mempengaruhi masyarakat untuk memilih para kandidat / partai politik peserta Pemilu.
Mengapa iklan politik dalam Pemilu 2009 dan beberapa Pemilu lainnya tidak selamanya berhasil membuat masyarakat memilih dalam Pemilu ?
Alasannya adalah :
Demikianlah artikel ini saya buat, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua dan kesimpulan yang dapat saya simpulkan dari artikel ini adalah suatu iklan Politik memang diperlukan dalam kampanye suatu kandidat / partai politik peserta Pemilu, tetapi tetap yang memiliki keputusan untuk memilih atau tidak adalah masyarakat, karena masyarakat memiliki pertimbangan dan referensi lain selain iklan politik yang dijadikan sebagai bahan pertimbangan memilih kandidat / partai politik dalam Pemilihan Umum (Pemilu).
(*) Kapita Fikom Untar / Ricky Santoso
Sumber Referensi:
1. http://eprints.undip.ac.id/26522/
2. http://id.wikipedia.org/wiki/Kampanye
3. http://id.wikipedia.org/wiki/Kampanye_politik
4. Materi Kuliah Kapita Selekta dari Bapak Dr. Eko Harry Susanto
(Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara)
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Catatan: Dilarang keras mengcopy paste atau mengcut paste artikel ini, tanpa mencantumkan Ricky Santoso selaku pemilik blog sebagai sumber informasi anda.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)









No comments:
Post a Comment